Sabtu, 20 Juni 2020

Apa Itu HIPPER 4.0 ?

HIMPUNAN PENDIDIK PENGGERAK 4.0 (HIPPER 4.0) di Inisiasi pada tanggal 24 November 2019 dalam kegiatan konsolidasi dan koordinasi guru penggerak secara daring dan diperkuat dengan hasil keputusan founder dan Steering Committee HIPPER 4.0 pada tanggal 5 Februari 2020 tentang persiapan pembentukan dan badan hukum Organisasi HIPPER 4.0 yang merupakan cikal bakal Terbentuknya HIPPER 4.0 secara resmi yang dilaksanakan secara daring pada 1 Juni 2020.


HIPPER 4.0 adalah wadah berhimpun nya para pendidik penggerak dan penggiat pendidikan lintas jenjang baik formal, informal maupun non-formal.


HIPPER 4.0 adalah organisasi profesional dan modern untuk saling berbagi, menginspirasi dan memberdayakan untuk memajukan pendidikan nasional baik dalam tatanan konseptual maupun praktikal.


Sejak 5 Februari 2020 meski masih berbentuk komunitas, HIPPER sudah mulai berbagai kegiatan webinar dan pelatihan bekerjasama dengan banyak pihak untuk terus berbagi, menginspirasi dan memberdayakan serta memotivasi para pendidik penggerak dimana yang terpapar sudah mencapai ribuan.


Mari bergabung bersama kami. Dapatkan informasi lengkapnya di :

Pendaftaran keanggotaan dan pengajuan kepengurusan di daerah melalui https://bit.ly/hipper4


Senin, 01 Juni 2020

WEBINAR KENORMALAN BARU BERSAMA HIPPER 4.0

Bapak/Ibu Pendidik Penggerak baik Pengurus, Anggota maupun Simpatisan HIPPER 4.0 serta para Pimpinan Lembaga/Sekolah/LPTK maupun praktisi pendidikan lainnya yang visioner. Setelah sempat mengadakan serangkaian webinar dengan berbagai topik dan tema hingga sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 H (Sesion 1), HIPPER 4.0 kembali akan menggelar rangkaian kegiatan Webinar pasca Hari Raya Idul Fitri 1441 H (Sesion 2). 

Rangkain kegiatan webinar kali ini adalah satu bentuk persiapan menghadapi “Kenormalan Baru”, HIPPER 4.0 bekerja sama dengan Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO), Google Educator Group Leader, MIE Expert, Intel Education Visionaries, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Anda semua untuk mempersiapkan para pendidik, siswa dan orang tua, mahasiswa dan dosen serta para praktisi dan insan pendidikan untuk bersama-sama mendukung dunia pendidikan memasuki kenormalan baru.

Sehubungan dengan hal tersebut kami ingin mengundang Ibu/Bapak semua untuk bergabung dan berkolaborasi bersama kami melalui Webinar HIPPER 4.0 yang akan terbuka untuk umum & GRATIS selama persiapan menyambut tahun ajaran baru, khususnya bagi pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi.

Anda semua selaku pendidik penggerak dan agen perubahan dapat terlibat dalam webinar yang kami adakan dengan mengikuti kegiatan webinar sebagai peserta atau berbagi dan menginspirasi sebagai narasumber/pembicara seperti contoh kegiatan webinar yang pernah kami selenggarakan bersama sekolah dan lembaga lainnya."REDEMITTEL (Ungkapan Komunikatif)" atau "Forum Discussion Group (FGD)

Jika anda tertarik, silahkan mengisi forms di bawah ini:


Senin, 04 November 2019

Urun Rembuk Forum Silaturahmi Kemdikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diawal kepemimpinan Mas Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Indonesia Maju mengumpulkan 32 organisasi pendidikan yang ada untuk mendengarkan berbagai permasalahan yang ada serta solusi yang ditawarkan oleh organisasi-organisasi tersebut. AGTIFINDO termasuk yang diundang untuk berbagi dan sharing dalam agenda kegiatan tersebut.
Live Part-1

Live Part-2

AGTIFINDO mengusulkan 3 hal urgen dan mendasar yakni :
1. Informatika menjadi mata pelajaran wajib kelompok A
2. Pengurangan beban kerja guru 24 jam tatap muka atau menggantinya menggunakan pola 37.5 jam
3. Peninjauan SKG 2007 dengan Integrasi Framework 21 Century Learning dan Pemisahan UU Guru dan Dosen

Adapun lengkapnya sebagai berikut :


Sedangkan hasil saran dan usulan berbagai organisasi profesi dan pendidikan yang ada sebagai berikut :



Kamis, 15 Agustus 2019

STEAM CLASSROOM : REVO 4.0 MODEL

Dalam rangkaian memperingati 74 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, AGTIFINDO.OR.ID melakukan Soft Launch buku dengan judul "How to STEAM Your Classroom, Revo 4.0 Model - Outside The Box (Part-1)" untuk memberikan wawasan tentang kecakapan abad 21 dan bagaimana menerapkannya di kelas dengan berbagai metode dan pendekatan yang ada dengan cara-cara baru untuk mengatasi berbagai “handicap” seperti terbatasnya waktu tatap muka dan target/tuntutan kurikulum dalam penerapan model-model pembelajaran. Softcopy dapat di unduh melalui link http://bit.ly/steamclassroom

Revo 4.0 Model merupakan model yang terisnpirasi dari buku “Teacher as Architect” dengan mengadaptasi istilah Multiple Learning Pathways. Sedangkan STEAM merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam model ini bersama dengan pendekatan dan model-model lainnya. Harapan kami buku ini tidak hanya dapat bermanfaat bagi guru-guru Informatika dan TIK akan tetapi untuk guru pengampu mata pelajaran lain serta para penggiat pendidikan lainnya sebagai referensi alternatif untuk membuka wawasan mengenai model-model pembelajaran abad 21 dan penerapannya di dalam kelas. 

Bagi anda yang ingin memiliki buku ini dalam format cetak (hardcopy) dapat melakukan pemesanan dengan mengirimkan email ke info@agtifindo.or.id dengan SUBJECT: "Order Buku STEAM" dengan Body Messeges berisi "Nama, Alamat Lengkap Pengiriman dan NOmor WA" dan Inbox juga ke nomor WA 081511201929 (Alesha) untuk konfirmasi. Buku akan dicetak terbatas pada pertengahan September 2019 dengan harga yang akan dikonfirmasi kepada anda sebelum proses pencetakan. 

Dan anda juga daapt memberikan donasi untuk pengembangan portal https://ditpsma.id/belajar dan pengembangan lebih lanjut buku ini serta kegiatan AGTIFINDO lainnya silahkan transfer melalui rekening BNI No. 029-930-2680 an. Fathur Rachim. Untuk Donasi, mohon bukti transfer dapat di unggah (upload) melalui link http://bit.ly/uploaddonasi .

Terimakasih.

Sabtu, 15 Juni 2019

KEWENANGAN MENGAJAR INFORMATIKA

Pertama-tama kami kembali ucapkan syukur Alhamdulillah, mata pelajaran Informatika telah hadir dan masuk didalam struktur kurikulum 2013 sebagai mata pelajaran pilihan seiring dengan tebitnya Permendikbud 35, 36, dan 37 Tahun 2019, sebuah terobosan baru dalam menyiapkan generasi kita untuk masuk dan mampu bersaing didalam era Industri 4.0 .

Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, saat ini dari segi Sarana dan Prasarana, mata pelajaran Informatika dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan Akreditasi A dan pelaksana UNBK secara mandiri karena telah memiliki kecukupan komputer, jaringan dan koneksi internet.

Meskipun Informatika dalam beberapa Kompetensi tertentu dapat diajarkan tanpa bantuan komputer, namun sekolah-sekolah yang telah memenuhi kecukupan sarana dan prasarana tersebut dapat melaksanakan mata pelajaran Informatika.

Dari segi tenaga pendidik atau gurunya, dapat disimpulkan pula bahwa saat ini ketersediaan guru dan kompetensinya untuk mengajar Informatika sangat mencukupi karena sudah banyak guru yang berlatar belakang TIK / Komputasi baik dari LPTK maupun Sain Murni, serta sudah banyak pula yang memiliki pengalaman yang dibuktikan dengan Sertifikasi Pendidik bidang TIK / Komputasi dan sertifikat kompetensi keahlian.

Saat ini banyak beredar informasi di kalangan guru TIK / Informatika masalah kewenangan mengajar Informatika yang hanya dapat dilakukan oleh guru berlatar belakang pendidikan TIK / Komputasi. Untuk itu kami ingin memberikan saran dan usulan sekaligus rasionalnya mengapa guru-guru TIK yang ada saat ini kami katakan siap mengajar mata pelajaran Informatika.



Pertama : Uji Kompetensi Guru (UKG)

Uji Kompetensi Guru (UKG ) merupakan sebuah kegiatan berupa ujian yang berfungsi untuk mengukur penguasaan kompetensi dasar mengenai bidang studi dan juga kompetensi pedagogik.

Seperti halnya mata pelajaran lain Guru TIK diwajibkan juga mengikuti UKG sesuai bidang sertifikasi pendidik yang dimilikinya atau sesuai latar belakang pendidikannya.

Acuan lingkup materi yang diujikan dalam UKG mengikuti Standar Kompetensi Guru (SKG) TIK. Jadi guru TIK di jenjang SMP tidak hanya diuji dengan penguasaan materi (KI/KD) TIK di jenjang SMP tetapi semua materi / kompetensi TIK di semua jenjang, baik SD, SMP, SMA maupun SMK.

Seperti halnya guru Matematika, dalam UKG, juga tidak hanya diuji dengan penguasaan materi / kompetensi lingkup materi di jenjang SD atau SMP, melaikan lingkup materinya juga

hingga SMA/SMK karena mengikuti SKG Matematika. Karena memang saat di LPTK/PT, guru Matematika tidak hanya di dessign untuk dapat mengajar di sebuah jenjang, melaikan harus dapat mengajar di semua jenjang.

Artinya, Guru yang telah mengikuti UKG dan dinyatakan LULUS, maka secara faktual guru tersebut dipandang memiliki cukup kompetensi untuk mengajarkan sebuah mata pelajaran sesuai bidang mata pelajaran UKG yang diikutinya.

Soal UKG bidang TIK tidak membedakan seorang guru berasal dari latar belakang pendidikan TIK/Komputasi atau berlatar belakang Non-TIK/Non-Komputasi, karena mereka memperoleh jumlah soal dan lingkup materi yang sama saat diujikan.

Selanjutnya, LPTK/PT mengeluarkan Sertifikat Pendidik bidang keahlian TIK sebagai bukti seorang guru LULUS dan memiliki Kompetensi dan dipandang Profesional untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut.

Kedua : Ruang lingkup materi

Ada delapan ruang lingkup materi pelajaran Informatika yakni 1)Teknologi Informasi dan Komunikasi - TIK, 2)Teknik Komputer - TK, 3)Jaringan Komputer dan Internet - JKI, 4)Analisis Data - AD, 5)Algoritma dan Pemrograman - AP, 6)Dampak Sosial Informatika - DS, 7)Berfikir Komputasional (BK), 8)Praktik Lintas Bidang - PLB

  1. Guru dengan latar belakang pendidikan rumpun TIK / Komputasi saat di perguruan tingginya memperoleh lingkup materi nomor 1 – 6 (TIK, TK, JKI, AD, AP dan DS).
  2. Guru dengan latar belakang pendidikan Non-TIK / Non-Komputasi mendapatkan mata kuliah dengan lingkup nomor 1 (TIK), bahkan seperti Prodi Matematika dan Fisika juga mendapatkan lingkup nomor 5 (AP).
  3. Guru dengan latar belakang Non-TIK (tidak linier) dan telah dinyatakan LULUS UKG bahkan mendapatkan Sertifikat Pendidik Bidang TIK telah diUJI dengan lingkup nomor 1 – 6 (TIK, TK, JKI, AD, AP dan DS). Artinya guru tersebut dipandang telah menguasai materi linkup nomor 1 – 6.
  4. Guru dengan latar belakang TIK/Komputasi maupun yang Non-TIK secara langsung di LPTK/PT saat masih kuliah belum mendapatkan lingkup materi 7 dan 8 (BK dan PLB). Rasionalnya kompetensi guru TIK dan Non-TIK adalah setara dan sama-sama perlu belajar banyak mengenai Lingkup materi 7 dan 8 (BK dan PLB) serta penguatan lingkup materi 5 (AP).

Ketiga : Kewenangan Mengajar

Atas dasar point PERTAMA dan KEDUA tersebut diatas maka mata pelajaran Informatika dapat diajarkan oleh guru dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Guru yang memiliki kualifikasi akademik Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-IV) dalam bidang komputing tapi belum memiliki sertifikat Guru Informatika.
  2. Guru yang tidak memiliki kualifikasi akademik Sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dalam bidang komputing tetapi memiliki sertifikat guru dalam bidang TIK yang diperoleh sebelum tahun 2015.
  3. Guru yang memiliki kualifikasi akademik Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-IV) dalam bidang komputing dan memiliki sertifikat guru dalam bidang TIK.
  4. Guru yang memiliki kualifikasi akademik Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-IV) dalam bidang Matematika dan Fisika yang memperoleh mata kuliah Algoritma dan Pemrograman serta belum/sudah memiliki sertifikat Guru Informatika.

Keempat : Peningkatan Kompetensi

Untuk dapat mengajarkan Informatika secara maksimal maka perlu adanya peningkatan kompetensi guru khususnya pada lingkup materi Algoritma dan Pemrograman (AP), lingkup materi Berfikir Komputasional (BK) dan lingkup materi Praktik Lintas Bidang (PLB). BK dan PLB merupakan hal yang mungkin terbilang baru bagi guru meskipun sebenarnya banyak guru secara tidak langsung telah menerapkan ini. Berfikir Komputational merupakan CORE mata pelajaran Informatika, bahkan dipandang sebagai Basic Skill yang ke-4 setelah MEMBACA, MENULIS dan BERHITUNG.
Berfikir Komputasional dan Praktik Lintas Bidang merupakan PENDEKATAN dan METODOLOGI guru sekaligus syarat dalam membelajarkan dan pembudayaan Informatika sebagai sebuah disiplin ilmu.

Dipoin inilah perlu dukungan semua pihak agar kompetensi guru dalam bidang ini bisa meningkat. Khusus untuk melatih kompetensi guru dalam bidang Berfikir Komputasional (Computational Thinking) pada tahun 2015 Google ASIA-PACIPIC (APAC) bersama Google Educator Group (GEG) Leader di seluruh Asia-Pacipic termasuk beberapa Leader GEG di Indonesia telah mengadakan pelatihan Computational Thinking (CT) dalam lingkup terbatas baik dengan metode blended learning yang diikuti oleh guru-guru TIK dan Non-TIK.

Saat ini portal Kursus Online Computational Thinking tersebut telah dapat diakses oleh seluruh guru TIK/Informatika untuk membantu meningkatkan kompetensi mereka dalam bidang Berfikir Komputasional (Computational Thinking). Adapun alamat yang bisa diakses adalah https://computationalthinkingcourse.withgoogle.com . Khusus untuk Praktik Lintas Bidang (PLB) yang merupakan sebuah pendekatan lain dalam pembelajaran agar bermakna, memiliki tingkat keterpakaian dan kontekstual dalam kehidupan nyata karena mengarah ke TEMATIK atau STEAM, tidak hanya harus dimiliki oleh guru Informatika, akan tetapi semua guru mata pelajaran.

Mungkin, tidak ada guru yang super hebat yang dapat menguasai 100% kompetensi Guru (SKG) dalam bidang mereka masing-masing, akan tetapi paling tidak UKG dan Sertifikat Pendidik merupakan Bank Guarantee yang dimiliki oleh Pemerintah saat ini.

Jika mata pelajaran Prakarya dapat diampu dan disetarakan untuk dapat diajarkan oleh  banyak guru dilintas bidang mata pelajaran, mengapa Informatika tidak diperlakukan dengan sama dans setara ? Apakah harus untuk dapat jadi guru olahraga, dia harus bisa karate, lari, bahkan berenang atau dengan kata lain menguasai semua cabang olah raga ?

Atau apakah semua guru Matematika saat ini harus menguasai lingkup materi sistem bilangan, pengukuran, logika matematika, geometri, statistika dan peluang, aljabar, kalkulus, trigonometri, vektor dst ? Tentu ada standarnya, dan alat ukurnya adalah UKG.

Berilah kesempatan kepada semua guru TIK saat ini untuk dapat mengajar Informatika, sebagai seorang guru yang profesional tentunya guru-guru TIK siap untuk belajar dan siap untuk mengembangkan kompetensinya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan siap pula untuk diukur hasil belajarnya dalam bentuk UKG.

"Guru Bersertifikasi TIK atau rumpun TIK" memiliki kompetensi yang cukup dalam mengajar Informatika. Dan mereka inilah yang perlu dilatih karena Guru TIK berlatar pendidikan S1 Komputasi setara dengan Guru TIK Non_Linier yang telah Tersertifikasi TIK.

Jika mereka dianggap tidak layak mengajar Informatika maka wajar jika Mark Zuckerberg, Larry Page, Bill Gates, Steve Jobs, Michael Dell dan Travis Kalanick tidak bisa jadi Guru Informatika di Indonesia karena mereka DropOut (tidak linier).


Sabtu, 18 Mei 2019

SEJARAH : COMPUTATIONAL THINKING DI INDONESIA

Istilah Computational Thinking saat ini sedang naik daun, terlebih ketika Mata Pelajaran Informatika resmi masuk kedalam struktur kurikulum 2013 melalui Permendikbud Nomor 35, 36 dan 37 tahun 2018. Dalam lampiran permendikbud 37 tentang Kompetensi Inti / Kompetensi Dasar (KI/KD) Informatika, Computational Thinking (Berpikir Komputational) menjadi lingkup materi tersendiri, bahkan dipandang menjadi CORE dari mata pelajaran Informatika dan pembeda yang "signifikan" dengan mata pelajaran pendahulunya TIK, yang merupakan bagian dari Informatika.

Berpikir Komputational adalah teknik pemecahan masalah (problem solving) yang sangat luas wilayah penerapannya. Tidak mengherankan bahwa memiliki kemampuan tersebut adalah sebuah keharusan bagi seseorang yang hidup pada abad ke dua puluh satu ini. Seperti juga bermain musik dan belajar bahasa asing, Computational Thinking melatih otak untuk terbiasa berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif.

Computational Thinking (CT) adalah sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran. CT memang memiliki peran penting dalam pengembangan aplikasi komputer, namun CT juga dapat digunakan untuk mendukung pemecahan masalah disemua disiplin ilmu, termasuk humaniora, matematika dan ilmu pengetahuan. Siswa yang belajar dimana CT diterapkan dalam kurikulum (proses pembelajaran) dapat mulai melihat hubungan antara mata pelajaran, serta antara kehidupan di dalam dengan di luar kelas.

Perdalam lebih lanjut Klik : COMPUTATIONAL THINKING

Penulis mengenal lebih intensif mengenai Computational Thinking ini saat Google Asia-Pasipic (APAC) meluncurkan program pelatihan Computational Thinking  untuk Leader Google Educator Group (GEG) di seluruh Asia Pacipic pada pertengahan Juli tahun 2015. Selanjutnya AGTIFINDO.OR.ID dimana banyak para Leader GEG di Indonesia saat ini tergabung (GEG East Jakarta, GEG Kalimantan Timur, GEG Surabaya, GEG Makassar, GEG Bogor, dan beberapa GEG lainnya) mengadakan pelatihan Computational Thinking ini secara tatap muka (onsite) dengan disupport oleh Google APAC serta Google Indonesia baik dalam bentuk sistem pelatihannya hingga konsumsi dan sovenir kegiatannya dibeberapa daerah di Indonesia.




Paling tidak saat program tersebut diluncurkan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan guru baik TIK maupun guru Non-TIK yang sudah dilatih tentang Computational Thinking ini, bahkan beberapa diantaranya telah mendapatkan sertifikat langsung dari Google APAC atas keberhasilan melewati tahapan-tahapan pelatihan. Pelatihan Computational Thinking meskipun menggunakan teknologi daring, namun telah didesign Google untuk bisa mentransfer pengetahuan tersebut kepada peserta pelatihan karena juga menerapkan metode Blended Learning. 


Saat itu, pelatihan ini hanya bisa diikuti dalam kalangan terbatas dan terdaftar di keanggotaan GEG. Namun beberapa waktu berselang, konten dan pelatihan ini sudah bisa diakses secara umum dan terbuka untuk seluruh guru dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman mereka mengenai Computational Thinking. Pelatihan ini bisa diikuti melalui link Kursus Online CT.

Kembali kepada masalah KI / KD Informatika khususnya Berpikir Komputasional (CT) dan Praktik Lintas Bidang (STEMA CS) dalam implementasinya akan menemui cukup banyak kendala, diantaranya :
  1. Menurunkan KD menjadi Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
  2. Membuat Indikator Soal
  3. Bentuk Pengukuran dan Pengujiannya berbasis Performance Test yang lebih cocok pada Penilaian Proses, sehingga akan mengalami kendala ketika harus diujikan dalam Penilaian Akhir Semester (PAS) dan Penilaian Akhir Tahun (PAT) yang dilapangan hanya dominan menguji KI 3 (Pengetahuan). 

Berpikir Komputasional dan Praktik Lintas Bidang merupakan PENDEKATAN dan METODOLOGI guru sekaligus syarat dalam membelajarkan dan pembudayaan Informatika. Akan cukup SULIT sekali untuk menguji metodologi guru dalam sebuah pembelajaran karena Target pembelajaran adalah siswa, terlebih jika yang diuji adalah pengetahuan.

Berfikir Komputasional (CT) dan Praktik Lintas Bidang (STEMA) jika diterapkan di Mata Pelajaran lain sekalipun seperti MATEMATIKA misalnya, pasti akan memiliki kendala yang sama. Kendalanya yakni jika harus diujikan secara teoritis/pengetahuan.

Berfikir Komputational merupakan CORE Informatika Bahkan Basic Skill yang ke-4 setelah MEMBACA, MENULIS dan BERHITUNG. Bagaimana cara menguji kemampuan siswa dalam MENULIS ? atau MEMBACA misalnya ? terlebih jika harus diuji secara Pengetahuan ? Ini merupakan PR tersendiri yang harus dicarikan solusinya.

Di negara India, Korea dan beberapa negara bagian di Amerika, Computational Thinking tidak secara langsung diajarkan dalam bentuk kompetensi (KD) akan tetapi dalam bentuk budaya dengan pembiasaan Coding Skill. Menurut mereka Coding Skill (pemrograman) bukan untuk mencetak siswa menjadi jagoan-jagoan atau programmer handal, akan tetapi untuk menjadikan siswa “terbiasa berfikir komputational”.

Di India, siswa sejak grade 1 hingga grade 10 mendapatkan materi Informatics dan Computer Science (WAJIB), pada grade 11 – 12 ( SMA kelas 11 – 12), Informatics dan Computer Science merupakan mata pelajaran PILIHAN pada jurusan yang dipilih. Informatics untuk siswa yang berada dijuruan Sosial dan sejenisnya (IPS/Bahasa), sedangkan Computer Science untuk jurusan Exact/Science Murni (MIPA).

India : Diskusi Inforamtika Part 2


India seperti kita ketahui merupakan negara pencetak programer, bahkan banyak orang India atau keturunan India yang sukses menjadi CEO dan masuk dijajaran pimpinan-pimpinan perusahaan teknologi raksasa dunia di Amerika. Kurikulum nasional India membagi TIK kedalam dua mata pelajaran saat dikelas 11-12 yakni Informatics dan Computer Science.

Fathur Rachim
DPP AGTIFINDO

Senin, 29 Agustus 2016

UJI PUBLIK KE-2 NASKAH AKADEMIK MAPEL TIK TERBARUKAN

Menindaklanjuti hasil Rekomendasi Tim TIK tentang Opsi Kebijakan Terhadap Kurikulum TIK Pada Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Holiday Inn Express, Kemayoran, Jakarta yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 4 – 6 Agustus 2016 maka Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO) telah selesai melakukan Kajian Akademis Mata Pelajaran TIK sebagai tahap awal untuk dapat menjadi landasan sekaligus masukan bagi Balitbang dan Puskurbuk dalam mengembangkan Mata Pelajaran TIK Terbarukan.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan telah mentahbiskan bahwa mata pelajaran TIK/KKPI telah dihapuskan dari struktur kurikulum nasional. Untuk mengantisipasi gejolak dan meredamkan serta menyalurkan guru TIK/KKPI yang telah ada maka dikeluarkanlah Permendikbud 68 Tahun 2014 dan Permendikbud 45 Tahun 2015 tentang Peran Guru TIK/KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013.

Dalam PP 74 tentang Guru hanya mengenal nomengklatur Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran dan Guru Bimbingan Konseling maka permendikbud 68 dan permendikbud 45 bisa dikatakan hanya sementara karena tidak dikenal nomenklatur Guru Bimbingan TIK. Permendikbud tersebut tidak bisa berjalan di hampir semua daerah karena tidak memiliki struktur kurikulum sebab bukan mata pelajaran dan sifatnya yang optional/pilihan kebijakan masing-masing sekolah.

Disisi lain, di banyak negara di dunia, computer science telah menjadi trend dan bahkan telah menjadi basic skill atau salah satu kemampuan dasar dalam persaingan di abad 21. Computer science tidak untuk menciptakan ahli-ahli programer akan tetapi untuk melatih peserta didik dalam berfikir komputasi.

Sudah saatnya TIK dimasukkan kembali sebagai mata pelajaran wajib dari jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK sebagai salah satu kemampuan dasar bagi peserta didik untuk Indonesia yang lebih baik. Kemandirian di bidang ekonomi, teknologi dan informasi serta demi ketahanan dan keamanan nasional merupakan pertimbangan utamanya.

Salah satu langkah nyata maka dilakukanlah kajian akademis dan menghasilkan Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK Terbarukan. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai masukan bagi perumus kebijakan pendidikan lebih lanjut.

AGTIFINDO menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pimpinan di DPP AGTIFINDO serta anggota dan para simpatisan,  pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Kemdikbud, guru TIK, praktisi pendidikan, serta Partner kami KOGTIK, GEG Leader Community serta Intel Educator Visionaries. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari semua pihak, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Naskah Akademik Mata Pelajaran TIK yang terlampir berikut ini, sekaligus sebagai bentuk Uji Publik terhadap Naskah Akademik tersebut. Kami membuka peluang masukan baik tertulis maupun diskusi lebih dalam mengenai Naskah Akademik tersebut termasuk Kompetensi Dasar mata pelajaran TIK Terbarukan.

Demikian Naskah Akademik ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kearah peningkatan mutu pendidikan dan kemandirian serta ketahanan nasional dibidang ekonomi, teknologi dan informasi kami ucapkan terima kasih.

http://bit.ly/UJIPUBLIK_KE2_NASKAHTIK

DPP AGTIFINDO